Jalur Diplomasi Kultural
DUA negara bertetangga, Indonesia dan Malaysia, kerap diterpa gejolak kedaulatan. Kasus terakhir adalah tindak-tanduk armada perang Malaysia yang dinilai menyalahi aturan batas-batas negara di sekitar pulau Ambalat.
Di samping saling kejar dan usir antar armada perang Indonesia dan Malaysia, ketegangan juga memuncak dan menjadi perdebatan elite politik. Seakan-akan gejolak kedaulatan Indonesia dan Malaysia itu hanya mampu diselesaikan lewat jalur diplomasi politik secara struktural dan formal.
Sementara jalan lain yakni kultural cenderung diabaikan. Diplomasi formal-struktural sudah sering dilalukan. Kesepekatan, MOU, dan segudang proposal perjanjian damai dibuat. Akan tetapi implementasinya tidak semulus seperti di atas meja runding dan sidang. Gejolak kedaulatan tetap saja menjadi menu tahunan.
Padahal Indonesia dan Malaysia tak cuma bertetangga, namun sama-sama berpenduduk muslim. Tak lain, motif Malaysia yang dituding melakukan perongrongan kedaulatan adalah perluasan basis teritorial dan perburuan aset ekonomis. Motif-motif itu menjungkirbalikkan logika kesamaan kultural mulai agama, sosial, budaya, etnis, bahasa, warna kulit, hingga kesamaan cara makan dan minum.
Melihat kesamaan-kesamaan itulah tampaknya slogan baru nasionalisme patut didengungkan, yaitu nasionalisme regional. Nasionalisme dalam bentuk ini diharapkan menjadi jalan alternatif melerai benturan kedaulatan antarkeduanya.
Nasionalisme regional yang penulis maksud tentu bukanlah berdiri di atas kekuasaan dan kedaulatan yang satu atau secara struktural formal politik dalam sebuah bingkai kekuasaan kebangsaan, akan tetapi nasionalisme regional pada ranah kultural di mana masing-masingnya memiliki kesadaran bersama untuk berbenah, bersatu, dan saling memberi manfaat untuk kemajuan bersama pula.
Penulis yakin pada dasarnya secara kultural keduanya tidak menginginkan gejolak kedaulatan. Konflik yang terjadi tidak lepas dari geliat elite-elite politik masing-masing negara yang bisa jadi tidak sesuai dengan aspirasi warga negaranya. Parahnya lagi momentum-momentum ketegangan itu hadir pada saat hajatan pesta demokrasi menyapa yang berpeluang dijadikan komoditas politik dan ajang kampanye.
Salah satu medan prospektif untuk membangun jalan diplomasi kultural dalam bingkai nasionalisme regional adalah pemanfaatan teknologi informasi internet khususnya Facebook. Fenomenalnya Facebook di Indonesia ditandai dengan menjamurnya para penggunanya mulai dari ibu-ibu rumah tangga, kalangan pelajar baik siswa maupun mahasiswa, profesional, guru, dosen, aktivis perdamaian, hingga politisi.
Dengan Facebook, siapa pun bisa mengenal siapa saja, saling curhat, diskusi, tukar pengalaman, mencari pekerjaan, promosi produk komoditas, bahkan mencari jodoh. Bukan tidak mungkin jika silaturahmi sosialkultural antara pengguna Facebook Indonesia dengan Malaysia terjalin maka ketegangan politik antarkeduanya bisa mereda.
Siti Muallimah
Mahasiswi Syari’ah Universitas Muhammadiyah Surakarta
Memang sepertinya belum bisa, impian untuk menempati jabatan tertinggi (Ketua) di HMJ-PGSD untuk saat ini pupus sudah. Kegagalan saya menjadi ketua hmjpgsd dikarenakan bahwa semester 2 hanya dapat menempati/ mencalonkan sebagai wakil ketua saja. Dan pada saat itu juga saya merasa sudah tidak ada harapan untuk menjadi calon ketua hmj-pgsd masa bakti 2009-2010, tentu saja hal tersebut menimbulkan kekecewaan yang mendalam bagi saya karena hal itu sudah saya targetkan sejak awal masuk di pgsd.
Kamarin saat sedang rehat bekerja, seorang kawan datang mengajak berdiskusi dengan saya menanyakan mengapa orang selalu menganggap orang lain lebih hebat dari dirinya sendiri, “mungkin Si A lebih tampan dari dirinya, Si B lebih cerdas dari dirinya, Si C lebih Kaya dari pada dirinya dan lainya mengapa orang lain bisa lebih hebat.. mengapa orang lain bisa lebih sukses..”
Komentar