Beranda > Sejarah Bangsa > Sekali Pancasila, Tetap Pancasila

Sekali Pancasila, Tetap Pancasila

garuda-pancasilaTanggal 1 Juni ini Pancasila genap berusia 61 tahun. Tahun 1945 Bung
Karno mengusulkan dasar negara itu di depan sidang Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI.

Pancasila disahkan masuk Pembukaan (Preambule) UUD 1945 pada sidang
PPKI, 18 Agustus 1945. Tetapi, “perlakuan” terhadap Pancasila sebagai
falsafah negara melalui proses panjang. Pada awal revolusi Bung Karno
harus menyosialisasikan Pancasila ke seluruh pelosok, memakai salam
lima jari tangan, simbol kelima sila Pancasila. Pancasila akhirnya
diterima rakyat.

Di era Orde Baru (Orba) Pancasila sempat menjadi polemik, terkait
klaim, yang pertama kali mengusulkan adalah Muhammad Yamin, bukan
Bung Karno. Dengan ditemukannya naskah otentik Notulen Sidang BPUPKI
di Arsip Nasional dan Surat Wasiat Bung Hatta kepada Guntur Sukarno,
masalah itu tak lagi mengemuka. Pancasila juga mendapat citra negatif
melalui program penataran Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan
Pancasila (P4). Masyarakat tidak diberi ruang untuk mengemukakan
pendapat. Pancasila menjadi alat politik untuk mempertahankan
kekuasaan.

Dalam peringatan HUT Ke-61 Pancasila, kita diliputi keprihatinan
karena hampir seluruh sila Pancasila belum terwujud. Lihat saja,
banyak warga mengalami kesulitan menjalankan ibadah menurut
keyakinannya. Sila Kerakyatan atau demokrasi belum dihayati, terbukti
banyak kekerasan dan kerusuhan.

Dampak belum dihayatinya Pancasila, yaitu kebobrokan moral, berdampak
pada manusia, alam, dan lingkungan. Alam murka akibat perilaku
manusia tak ramah lingkungan. Bencana alam kecil sampai besar terus
terjadi, dari Aceh hingga Yogyakarta. Sebagian orang religius
menganggap ini adalah pertanda azab. Orang spiritual menyebut ini
karma karena ada sebab-akibat.

Bagaimana menghadapinya? Cerahkan kesadaran spiritual (spiritual
awareness). Menurut Kamus Filsafat, spiritual mengacu ke nilai-nilai
manusiawi nonmaterial, seperti keindahan, kebaikan, kebenaran,
kejujuran, kesucian, dan cinta.

Selama manusia belum mau mengembara di alam spiritual, selama itu
pula segala yang diimpikan tidak akan terwujud. Kalaupun terwujud,
sifatnya sementara, semu, tanpa makna. Konflik senantiasa subur.

Kejayaan spiritual

Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia pernah mengalami masa kejayaan
spiritual, Contohnya pada masa Sriwijaya dan Mataram purba, dengan
lahirnya mahakarya Borobudur. Juga dengan peradaban India, Tiongkok
kuno, dan Islam di Timur Tengah. Ini bukti, spiritual mempunyai daya
mahadahsyat untuk mencapai kemajuan.

Sepanjang sejarah manusia, pencarian spiritual terus berkembang. Di
sana-sini pengetahuan mengenai spiritual makin maju dan luas. Sayang,
mereka yang tertarik hal spiritual hingga kini masih minoritas,
bahkan dalam perkembangannya spiritual mengalami pembelokan,
mengakibatkan banyak orang merasa risi pada hal-hal spiritual.
Spiritual dihubungkan dengan hal yang tidak realistis, paranormal,
mistik, klenik, atau perdukunan dengan persepsi keliru.

Pada usia ke-61 Pancasila yang harus dipertanyakan adalah masihkah
kita berpegang pada Pancasila sebagaimana disepakati founding
fathers? Apakah kita perlu mencari dasar negara lain, dengan alasan
Pancasila tidak memberi perubahan hakiki terhadap kehidupan dan
kesejahteraan bangsa Indonesia? Rasanya tidak pantas negara
menyandang nama Pancasila, sementara warganya saling membunuh.

Sebagai paham universal, Pancasila sarat dengan perspektif spiritual
dan mengacu pada pluralisme, kemajemukan, atau heterogenitas. NKRI
merupakan wadah rakyat yang plural. Maka, mewacanakan spiritual
(Ketuhanan Yang Maha Esa) yang paling tepat hanya Pancasila.

Ibarat masih didominasi “kuasa gelap”, tidak ada jalan lain kita
harus menuju “kuasa terang”. Jalan ke situ adalah jalan Pancasila
dengan cara spiritual (The Pancasila way by a spiritual way).
Spiritualisasi Pancasila bertujuan melakukan pembentukan jiwa. Dengan
cara itu, kita dapat mencapai cita-cita Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, yaitu Indonesia yang jaya sentosa, dunia damai penuh
kasih, gotong royong, dan persaudaraan.(Guruh Sukarno Putra)

Categories: Sejarah Bangsa
  1. ekayu15
    Januari 20, 2009 pada 6:11 am | #1

    bagus sekali tulisannya…kjadi inget jadul..penataran P4…mas ajarin saya bikin blog kayak gini dunk..(kok gak nyambung ya ama komentar awal he3.) bego banget nih…ya plizzz…makasih

  2. gm thony who
    Februari 27, 2009 pada 11:59 am | #2

    Ternyata dimana2 angka golput makin mengglembung, maka untuk menampungnya kami mendeklarasikan Partai Garuda Nusantara (Pagarnusa), di Jogja, Jum’at, 27 Februari 2009, pukul 07.30 WB. Tunggu mawon munculnya Capres-Cawapresnya 2012, Visi: Bangsa Kuat, Rakyat Hebat, Misi: Mengembalikan Kejayaan Nusantara di Bumi Wilwatikta.
    Ketum: Farook AS
    Sekjen: GM Thony Who
    Ketua Dewan Penasehat: Amirul Gaib

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.